Stop Overthinking • Page 16
Tujuan yang Cukup Jelas untuk Dijalankan
Di halaman sebelumnya, kamu sudah memilih hal yang penting. Sekarang, tentukan langkah pertamanya. Tujuan yang jelas membantu kamu mulai tanpa harus merencanakan seluruh hidup sekaligus.
Arah menjadi tindakan
sekarang
jelas
Punya niat, belum punya langkah
Arga tahu apa yang penting, tetapi masih bingung harus mulai dari mana
Semalam Arga memutuskan untuk mendahulukan proposal kerja. Ia juga ingin lebih sehat dan lebih tertib mengatur uang. Namun saat duduk di depan laptop pukul sembilan pagi, ia terdiam. Bagian proposal mana yang harus ditulis lebih dulu? Berapa lama ia perlu mengerjakannya hari ini?
“Menyelesaikan proposal” sudah memberi arah, tetapi belum menjawab apa yang perlu Arga lakukan pagi itu. Ia membutuhkan langkah pertama yang cukup kecil dan jelas untuk dikerjakan.
Percakapan di kepala Arga
Arga tidak kekurangan niat. Ia hanya belum menentukan tindakan pertama yang bisa dimulai.
Buat langkahnya terlihat
Ubah keinginan umum menjadi tindakan yang bisa dimulai
Tujuan yang jelas menjawab tiga pertanyaan: apa yang akan kamu lakukan, kapan melakukannya, dan bagaimana kamu tahu tindakan itu sudah selesai. Jawabannya tidak harus sempurna. Yang penting, saat waktunya tiba kamu tidak perlu memilih lagi dari awal.
“Saya harus lebih sehat.”
Belum jelas harus mulai dari tidur, makan, olahraga, atau hal lain.
“Selama empat pekan, saya berjalan 20 menit setelah makan malam pada Senin, Rabu, dan Jumat.”
Ada kegiatan, waktu, dan lama pelaksanaan. Setelah empat pekan, rencana ini bisa ditinjau.
Lima lensa SMART
Lima pertanyaan untuk memeriksa tujuanmu
SMART adalah cara sederhana untuk melihat apakah tujuanmu sudah cukup jelas. Gunakan sebagai panduan, lalu sesuaikan dengan keadaanmu.
Spesifik
Apa tepatnya yang akan dilakukan? Sebut tindakan seperti “menulis satu bagian proposal”, bukan hanya “menjadi lebih produktif”.
Terukur
Bagaimana kamu tahu sudah mengerjakannya? Gunakan jumlah, durasi, frekuensi, tahap, atau tanda selesai yang masuk akal.
Dapat dicapai
Apakah ini mungkin kamu lakukan sekarang? Pertimbangkan waktu, tenaga, kemampuan, dan bantuan yang tersedia.
Relevan
Mengapa ini penting bagimu? Pilih tujuan yang menjawab kebutuhan atau tanggung jawab nyata, bukan hanya tekanan orang lain.
Berbatas waktu
Kapan kamu mulai dan mengeceknya lagi? Tanggal tinjau membantu kamu melihat kemajuan dan mengubah rencana bila perlu.
Terukur bukan berarti semuanya harus menjadi angka. Misalnya, tujuan mengobrol dengan keluarga dapat ditandai selesai ketika kalian sudah berbicara dan sepakat tentang langkah berikutnya. Untuk ibadah, jumlah halaman yang dibaca bisa membantu menjaga kebiasaan, tetapi tidak mengukur keikhlasan atau penerimaan amal di sisi Allah.
Contoh kehidupan
Begini contohnya dalam pekerjaan, uang, keluarga, dan ibadah
Bandingkan kalimat sebelum dan sesudahnya. Yang berubah bukan besarnya ambisi, melainkan kejelasan langkah. Jumlah dan waktunya boleh kamu sesuaikan.
Pekerjaan
Keuangan
Hubungan
Ibadah
Hasil dan tindakan
Bedakan hasil yang diharapkan dan tindakan yang bisa kamu lakukan
Hasil memberi arah. Tindakan memberi tahu apa yang bisa kamu kerjakan hari ini. Keduanya penting, tetapi hasil akhir tidak selalu berada dalam kendalimu.
“Proposal disetujui bulan ini.” Hasilnya juga dipengaruhi keputusan klien, anggaran, dan kondisi lain.
“Selesaikan draf, minta masukan dari satu rekan, lalu kirim sebelum Jumat pukul 15.00.” Tiga langkah ini bisa Arga kerjakan tanpa menunggu keputusan klien.
Apa kata penelitian?
Kejelasan membantu, tetapi bukan satu-satunya syarat
Locke dan Latham merangkum 35 tahun penelitian tentang penetapan tujuan. Dalam banyak situasi, target yang jelas dan cukup menantang membantu orang bekerja lebih baik daripada arahan samar seperti “lakukan yang terbaik”.
Namun target saja tidak cukup. Orang tetap membutuhkan kemampuan, komitmen, dan masukan tentang kemajuannya. Saat belajar hal baru, target seperti “coba dua cara, lalu catat mana yang bekerja” dapat lebih tepat daripada langsung menuntut hasil tinggi.
Jadi, penelitian ini mendukung pentingnya tujuan yang jelas. Penelitian itu tidak berarti setiap tujuan yang ditulis dengan format SMART pasti berhasil.
Kapan tujuan membantu?
Hijrah bukan langkah tanpa persiapan
Arah yang jelas, peran yang nyata, dan hati yang tetap bersandar kepada Allah
Di Makkah, tekanan terhadap kaum Muslim makin berat. Sebagian sahabat sudah pergi ke Madinah. Abu Bakar ingin menyusul, tetapi Nabi Muhammad ﷺ memintanya menunggu. Selama menunggu, Abu Bakar merawat dua unta selama sekitar empat bulan. Ia berharap kelak dapat menemani Nabi dalam perjalanan.
Suatu siang Nabi datang ke rumahnya pada waktu yang tidak biasa. Izin untuk berhijrah telah turun. Abu Bakar bertanya apakah ia boleh ikut. Nabi menjawab ya. Asma, putri Abu Bakar, menyiapkan bekal. Mereka kemudian bersembunyi di Gua Tsur selama tiga malam. Setiap malam, Abdullah, putra Abu Bakar, membawa kabar dari Makkah. Amir bin Fuhairah menggembalakan ternak di dekat mereka. Seorang pemandu yang mengenal jalur perjalanan juga telah mereka percaya.
Orang Quraisy masih mencari mereka. Semua persiapan itu tidak menghilangkan bahaya. Saat berada di gua, Nabi menenangkan Abu Bakar dengan kalimat yang diabadikan Al-Qur'an: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Mereka melakukan apa yang mampu diusahakan, lalu bersandar kepada Allah untuk hal yang tidak bisa mereka kendalikan.
Jika orang beriman tidak menolong Nabi, Allah telah menolong beliau ketika diusir dari Makkah. Saat beliau dan seorang sahabat berada di gua, beliau menguatkan sahabatnya agar tidak bersedih karena Allah bersama mereka. Allah menurunkan ketenangan, memberi bantuan yang tidak terlihat, merendahkan seruan orang yang menentang-Nya, dan meninggikan kalimat-Nya. Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Yang bisa kita pelajari: ketika arah perjalanan jelas, orang dapat menyiapkan bekal, memilih jalan, dan membagi tugas. Kisah hijrah tentu jauh lebih besar daripada urusan membuat target harian. Ia juga mengingatkan kita bahwa perencanaan yang sungguh-sungguh tetap berjalan bersama tawakal.
Abu Bakar merawat kendaraan sebelum waktu berangkat diketahui.
Ada yang menyiapkan bekal, membawa kabar, menggembalakan ternak, dan memandu jalan.
Di tengah pengejaran dan ketidakpastian, Nabi menguatkan sahabatnya.
Mereka tahu ke mana harus pergi. Arah itu memandu pilihan jalan dan persiapan.
Setiap kebutuhan penting memiliki orang yang membantu menanganinya.
Mereka berikhtiar, tanpa menganggap keselamatan hanya bergantung pada rencana.
Latihan tujuh menit
Tulis satu tujuan, bukan seluruh hidupmu
Pilih satu hal penting yang sudah kamu tentukan di halaman sebelumnya. Tidak perlu memperbaiki semua bidang sekaligus. Isi kalimat berikut dengan rencana yang benar-benar mungkin kamu jalankan.
Tulis tujuan kabur yang selama ini berputar di kepala.
Uji dengan lima pertanyaan SMART dan kecilkan jika belum realistis.
Tulis tindakan pertama yang dapat diselesaikan dalam waktu dekat.
Kalau keadaan berubah, target boleh disesuaikan
Sakit, disabilitas, tugas merawat keluarga, kondisi keuangan, dan pekerjaan dapat mengubah kemampuanmu hari ini. Mengecilkan target dalam keadaan seperti itu bukan selalu menyerah. Bisa jadi itulah cara paling jujur untuk tetap melangkah.
Pertanyaan yang sering muncul
Agar tujuan tidak berubah menjadi beban baru
Bagaimana jika saya gagal memenuhi target pada hari pertama?
Apakah tujuan harus selalu menantang?
Bagaimana mengukur tujuan yang bersifat emosional?
Apakah tujuan ibadah boleh dibuat terukur?
Kapan sebuah tujuan perlu dilepas?
Rujukan dan batas materi
- Locke, E. A. dan Latham, G. P. (2002). Building a Practically Useful Theory of Goal Setting and Task Motivation. American Psychologist, 57(9), 705 sampai 717. Artikel merangkum 35 tahun penelitian dan membahas syarat serta batas efek tujuan.
- Sahih al-Bukhari 3905, riwayat Aisyah tentang persiapan hijrah, tiga malam di Gua Tsur, pembagian peran, perbekalan, dan pemandu perjalanan.
- Al-Qur'an, Surah At-Tawbah ayat 40. Uraian makna ayat pada halaman ini adalah parafrasa berbahasa Indonesia, bukan terjemahan resmi kata demi kata.
- SMART adalah alat bantu memperjelas tujuan, bukan alat diagnosis, ukuran nilai manusia, atau jaminan hasil. Keadaan kesehatan, sosial, ekonomi, dan kemampuan tetap harus dipertimbangkan.